Memahami format koordinat GPS: derajat desimal vs DMS
Dipublikasikan 13 Juni 2026
Kalau kamu pernah menyalin lokasi dari Google Maps, lalu menemukan tempat yang sama ditulis dengan cara yang jauh berbeda di laporan survei atau peta penerbangan, kamu nggak sendirian. Satu sumber menulisnya 6.200000, sumber lain 6°12'00"S, dan ada juga yang mencampur keduanya. Padahal ketiganya sama-sama benar, cuma cara penulisannya saja yang beda untuk titik yang sama di Bumi. Di panduan ini kita bahas arti masing-masing format, kapan kamu bakal menemuinya, dan cara berpindah antar format tanpa bikin koordinatnya melenceng.
Dasar-dasar lintang dan bujur
Setiap koordinat terdiri dari sepasang angka. Lintang (latitude) menunjukkan seberapa jauh posisimu ke utara atau selatan dari khatulistiwa, mulai dari 0° di khatulistiwa sampai 90° di kutub. Bujur (longitude) menunjukkan seberapa jauh ke timur atau barat dari Meridian Utama di Greenwich, dari 0° sampai 180°. Indonesia kebanyakan ada di selatan khatulistiwa dan timur Greenwich, jadi sebagian besar koordinat di Indonesia punya lintang selatan dan bujur timur.
Derajat desimal (DD)
Derajat desimal menuliskan koordinat sebagai dua angka biasa, misalnya -6.200000, 106.816666. Format inilah yang dipakai hampir semua peta digital dan API, soalnya bentuknya cuma dua angka desimal yang gampang disimpan, dibandingkan, dan dipakai buat perhitungan. Tanda plus-minusnya yang menentukan arah: lintang negatif berarti selatan, bujur negatif berarti barat.
Tingkat ketelitian tergantung berapa angka di belakang koma. Lima angka desimal sudah menunjuk lokasi dengan ketelitian sekitar satu meter, lebih dari cukup untuk kebutuhan sehari-hari; enam angka desimal bisa sampai sekitar sepuluh sentimeter. Menambah angka melebihi yang benar-benar diukur sumbernya nggak bikin lebih akurat, cuma kelihatan lebih presisi.
Derajat, menit, detik (DMS)
DMS membagi tiap derajat menjadi 60 menit, dan tiap menit menjadi 60 detik, persis seperti pembagian waktu. Koordinat tadi kalau ditulis dalam DMS jadi 6°12'00"S, 106°48'59.99"T. Kamu bakal sering melihat DMS di peta laut dan penerbangan, di dunia survei, dan di dokumen resmi lama, karena format ini sudah jadi standar jauh sebelum ada komputer. Buat manusia gampang dibaca, tapi buat software malah ribet, makanya konversi sering dibutuhkan.
Cara menghitung DMS ke desimal secara manual
Rumusnya gampang: desimal = derajat + menit/60 + detik/3600, lalu kasih tanda negatif kalau arahnya Selatan atau Barat. Contohnya 6°12'00"S jadi 6 + 12/60 + 0/3600 = 6,2, dan karena Selatan, hasil akhirnya -6,2. Sebaliknya, ambil angka bulatnya sebagai derajat, kalikan sisa di belakang koma dengan 60 untuk dapat menit, lalu ulangi langkahnya untuk detik.
Format mana yang sebaiknya dipakai?
- Pakai derajat desimal untuk segala hal yang digital: link, spreadsheet, database, kode, sampai API semuanya minta format ini.
- Pertahankan DMS kalau peta, izin, atau dokumen hukumnya memang ditulis begitu, biar cocok dengan catatan resminya.
- Selalu catat arah belahan buminya (U/S, T/B) atau tandanya. Satu tanda minus yang kelewat saja bisa bikin lokasimu pindah benua.
Kalau kamu memang perlu ganti format, mending pakai konverter daripada membulatkan manual, karena dari pembulatan manual itulah presisi sering kebuang tanpa kamu sadari. Alat desimal-ke-DMS dan DMS-ke-desimal kami jalan sepenuhnya di browser, dan begitu dua titik sudah dalam format yang sama, kalkulator jarak kami bisa langsung mengukur jarak garis lurus antara keduanya.